SEJARAH MATCHA
Awal Mula dari Impor dari Cina
Meskipun matcha diimpor ke Jepang, pada waktu itu matcha sangat mahal sehingga hanya bisa dinikmati oleh sejumlah kecil orang dengan status tinggi seperti biksu dan bangsawan. Selain itu, pengiriman delegasi ke Cina juga dihentikan, sehingga tidak memungkinkan untuk terus membawa biji dari Cina.
Dengan demikian, karena hanya orang kelas atas yang bisa meminumnya dan dihentikannya pengiriman delegasi ke Cina, pada titik ini matcha belum menyebar di Jepang.
Matcha Mulai Menyebar di Zaman Kamakura
Pada zaman Kamakura, ketika para samurai memegang kekuasaan, seorang biksu bernama Eisai membawa biji matcha dari Cina ke Jepang. Selain membawa biji matcha, ia juga menulis buku berjudul “Kissa Yōjōki” yang berisi cara minum matcha, etiket, efek, dan manfaatnya. Pembuatan buku yang mendetail tentang matcha ini memungkinkan banyak orang Jepang untuk memahami matcha dengan lebih baik. Selain itu, budidaya matcha mulai serius dilakukan. Pengaruh dari “Kissa Yōjōki” adalah sebagai berikut:
Metode Pembuatan: Sebelum itu, metode minum teh yang umum di Jepang adalah dengan menyeduh daun teh (sencha). Namun, dengan adanya buku ini, metode minum matcha dalam bentuk bubuk, yang masih populer hingga sekarang, mulai menyebar, dan menjadi dasar budaya teh hijau.
Etiket: Pada waktu itu di Cina, teh disiapkan dalam satu teko dan diminum bersama beberapa kali sehari, termasuk saat berlatih atau sebelum tidur. Etiket ini membawa makna menyatukan hati dalam latihan bersama. Selain itu, saat acara besar, diadakan upacara minum teh bersama yang disebut “sōcharei”. Dengan mengadopsi upacara ini ke Jepang, tradisi ini kemudian berkembang menjadi upacara minum teh (chanoyu).
Efek dan Manfaat: Buku tersebut mencatat bahwa komponen matcha membantu memperbaiki organ tubuh dan memiliki manfaat untuk kesehatan dan umur panjang. Seperti judul bukunya, matcha dikenal memiliki efek “yōjō” (perawatan kesehatan), sehingga matcha menyebar tidak hanya sebagai minuman tetapi juga sebagai obat.
Budidaya: Efek penyegar dari matcha sangat berguna dalam latihan keras Zen, sehingga budidaya teh di kuil-kuil mulai meluas. Metode budidaya matcha ini kemudian disampaikan kepada Myōe Shōnin di Toganoo, Kyoto, dan berkembang menjadi kebun teh yang lebih serius.
Pada zaman ini, karena para samurai pertama kali memegang kekuasaan, matcha juga digunakan sebagai alat sosial di antara para samurai. Dengan budidaya matcha yang semakin serius, lahir budaya “tōcha” di mana para samurai menebak asal matcha di acara sosial, mirip dengan peran wine saat ini. Akhirnya, karena taruhan juga dilakukan bersama dengan tōcha, tōcha dilarang, tetapi hal ini menunjukkan seberapa dalam matcha telah menyebar di kalangan samurai.
Kyoto dan Uji Menjadi Penghasil Matcha Terkenal
Awalnya, Uji di Kyoto adalah daerah yang dekat dengan ibu kota dan memiliki iklim berkabut dan hangat yang cocok untuk budidaya teh, sehingga teh ditanam di sana. Pada zaman Muromachi, oleh shogun ketiga, Ashikaga Yoshimitsu, kebun teh di Uji menerima perlakuan istimewa sebagai tempat budidaya matcha resmi pemerintah, yang dengan cepat menjadikan Uji sebagai penghasil matcha terkenal.
Ashikaga Yoshimitsu juga terkenal karena membangun Kinkaku-ji, tetapi dia juga merupakan orang yang mendorong produksi matcha di Uji. Selain itu, pada zaman ini, matcha mulai diterima sebagai minuman di kalangan samurai, dan minum teh menjadi tren di kalangan samurai.
Wabicha Menyebar oleh Sen no Rikyū
Pada zaman Azuchi-Momoyama, budaya wabicha mulai menyebar oleh Sen no Rikyū. Wabicha adalah cara menikmati teh dengan mengurangi kemewahan dan menikmati teh dalam suasana tenang di ruangan yang sederhana, yang juga berhubungan dengan cara minum matcha saat ini. Dengan minum matcha di ruangan yang sederhana dan tenang, seseorang dapat merenungkan dirinya sendiri dan bertujuan untuk pembentukan spiritual.
Cara ini sangat berbeda dengan minum teh dalam keramaian yang ada sebelumnya. Pada masa itu, karena sering terjadi perang, wabicha menjadi populer di kalangan orang-orang yang jiwanya mudah terganggu, termasuk Oda Nobunaga dan Toyotomi Hideyoshi yang juga menyukai wabicha.
Lahirnya Matcha Berwarna Hijau
Seorang pengusaha teh bernama Nagatani Sōen berhasil mengembangkan metode pembuatan teh pada tahun 1738 yang menghasilkan matcha berwarna hijau dari yang sebelumnya berwarna cokelat. Meskipun terdengar mengejutkan, hingga tahun 1738 di zaman Edo, matcha tidak berwarna hijau seperti sekarang, melainkan cokelat. Teh hijau yang dihasilkan oleh Nagatani Sōen memiliki aroma dan rasa yang lebih kuat, sehingga menjadi sangat populer.
Teapot Membuat Matcha Bisa Dinikmati di Rumah Tangga Umum
Pada zaman ini, mesin produksi matcha berkembang dan memungkinkan produksi massal matcha. Kemudian, pada zaman Taisho, teapot (kyusu) menjadi populer. Dengan munculnya teapot, matcha bisa dinikmati di rumah tangga umum hanya dengan menuangkan air panas.
Dengan cara ini, matcha mulai dinikmati di berbagai rumah tangga di Jepang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar